Penyakit Jaringan Keras Gigi


PREVENTIF DENTISTRY
PENYAKIT JARINGAN KERAS GIGI




OLEH:
Nama               : Silvi Okdreyra Veneta
NIM                : 175110521
SEMESTER    : IV A


DOSEN PEMBIMBING:
drg. Lisnyetty, M, Kes
Nova Herawati, SKp, G, M, Kes



JURUSAN KEPERAWATAN GIGI
POLTEKKES KEMENKES RI PADANG
2019




KATA PENGANTAR

            Segala puji bagi allah SWT yang menciptakan, mengatur dan menguasai seluruh mahkluk didunia dan akhirat. Semoga kita senantiasa mendapatkan limpahan rahmat dan ridho-Nya. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasullulah Muhammad SAW, beserta keluarganya yang telah membimbing manusia untuk meniti jalan lurus menuju kejayaan dan kemulian.
Pada kesempatan kali, penulis  menulis sebuah makalah yang berjudul Penyakit Jaringan Keras Gigipenulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada orang tua yang telah mendukung penulis dalam pembuatan makalah ini. Kemudian juga mengucapkan terima kasih kepada dosen penulis yaitu ibu drg.Lisnayetty, M, Kes dan ibu Nova Herawati, SKp,G, M. Kes, selaku pembimbing penulis dalam pembuatan makalah ini serta semua pihak yang telah membantu penulis sehingga makalah ini bisa terselesaikan.
Penulis berharap, agar makalah yang berjudul Penyakit Jaringan Keras Gigi ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya dan dapat menjadi acuan dalam pembuatan makalah lain dengan tema yang sama.


     Bukittinggi,     Maret 2019


                                                                                                            Penulis




Daftar Isi

Kata pengantar...................................................................................           i
Daftar Isi............................................................................................           ii
BAB I. Pendahuluan..........................................................................           1
       1.1 Latar Belakang .....................................................................           1
       1.2 Rumusan Masalah..................................................................           1
       1.3 Tujuan Penulisan....................................................................           1
BAB II. Landasan Teori.....................................................................           2
       2.1 Penyakit Jaringan Keras Gigi................................................           2
       2.2 Pencegahan Karies.................................................................           10
BAB III. Penutup...............................................................................           14
       3.1 Kesimpulan............................................................................           14
       3.2 Saran......................................................................................           14
Daftar Pustaka....................................................................................           15




BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Pada zaman sekarang ini, beberapa orang mempunyai perhatian yang kurang dalam kesehatan gigi dan mulut. Padahal tidak dipungkiri bahwa awal mulanya dari suatu penyakit bersumber dari rongga mulut. Terutama penyakit gigi seperti karies, yan apabila hanya dibiarkan akan menyebabkan beberapa penyakit lainnya.
Oleh karena itu,tenaga kesehatan / medis terutama dalam bidang gigi harus siap siaga dihadapkan dengan permasalahan gigi dan mulut yang kompleks. Dan para tenaga kesehatan gigi dan mulut seharusnya bisa mengurangi angka karies di Indonesia.

1.2  Rumusan Masalah
a.       Apa saja yang termasukpenyakit jaringan keras gigi ?
b.      Bagaiman cara mencegah penyakit jaringan kers gigi ?
1.3  Tujuan Penulisan
a.       Untuk mengetahui penyakit jaringan keras gigi.
b.      Untuk mengetahui upaya pencegahan penyakit jaringan keras gigi.




BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Penyakit Jaringan Keras Gigi              
1.      Kelainan Jaringan Keras karena Non-infeksi
a.      Atrisi
Pada saat gigi berkontak, maka ketika itu timbul keausan gigi. Makin sering kontak terjadi makin besar keausannya. Oleh karena itu, lazim sekali dijumpai adanya keausan di permukaan oklusal dan proksimal pada gigi yang telah berada dalam mulut bertahun-tahun lamanya. Keausan yang disebabkan oleh kontaknya gigi disebut atrisi.
Keausan yang terus berlanjut akan membuka tubulus dentin dan pulpa akan mengadakan reaksi dengan membentuk kalsifikasi pada tubulus di daerah yang terkena dandengan pembentukan dentin reaksioner. Keausan yang ditimbulkan hanya oleh kebiasaanmengerotkan gigi menyebabkan keausan yang merata pada email dan dentin. Kalau keausan menjadi sangatluas sehingga banyak jaringan gigi yang hilang dan jika kecepatan keausan melebihikecepatan pembentukan dentin reaksionernya, pulpa mungkin akan terbuka sehingga harusdilakukan perawatan saluran akar. Intervensi perlu dilakukan jika keausan sudahmengganggu, pulpa dalam bahaya terbuka, atau mengganggu oklusi. Sering kali diperlukan pembuatan mahkota

Bagi gigi posterior biasanya digunakan mahkota tuang emas, sementara bagi gigi anterior digunakan mahkota metal keramiik sehingga merupakan kombinasi estetikadan kekuatan. Biasanya keausan menimpa banyak gigi sehingga perawatannya tak dapatdihindarkan lagi, merupakan perawatan yang ekstensif. Perawatan akan merupakan perawatanyang sukar dan memakan waktu karena sering kali oklusi pasien harus diperbaiki dulu. Ciri khas atrisi adalah perkembangan dari suatu sisi yang mana adalah permukaan yang datar dengan di kelilingi oleh tepi yang berbatas jelas
b.      Abrasi
Abrasi adalah keausan gigi yang tidak disebabkan oleh berkontaknya gigi melainkan disebabkan oleh penyikatan horisontal yang berlebihan dengan menggunakan pasta gigi yang abrasif atau ausnya tepi insisal karena kebiasaan menggigit benda tertentu. Pulpa mengadakan reaksi dengan membentuk kalsifikasi di tubulus dentin dan pembentukan dentin reaksioner. Dentin yang terbuka ini jarang sensitif dan bentuknyaseringkali seperti alur berbentuk V di dekat tepi ginggiva. Seringkali dijumpai adanya resesi ginggiva akibat penyikatan berlebihan tetapi ginggivanya biasanya sehat.Perawatannya adalah menasihati pasien agar menggunakan teknik penyikatan yang kurang merusak dan dengan pasta gigi yang tidak abrasif atau hentikan kebiasaan menggigit-gigit. Bahan-bahan yang dapat menyebabkan terjadinya abrasi disebut abrasive. Contohnya:
1.      Kapur
2.      Pumice
3.      Pasir

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat abrasi:
1.      Tingkat kekerasan bahan
Partikel abrasive harus lebih keras daripada permukaan gigi. Jika tidak, abrasive nya akanrusak dan permukaan gigi akan tidak terlalu dipengaruhi. Tingkat abrasi tergantung padatemperatur, dimana objek yang temperaturnya tinggi akan menjadi lebih lunak, dan nantinyamudah terabrasi.
2.      Ukuran
Partikel abrasive yang lebih besar akan menghasilkan goresan yang lebih dalam daripada partikel yang lebih kecil. Goresan yang lebih dalam berarti lebih banyak bahan yang dibuang.Ukuran partikel abrasive dinamakan grit.
3.        Bentuk
 Partikel yang berbentuk bulat akan kurang efektif daripada partikel yang berbentuk irreguler.Hal ini dikarenakan partikel yang irreguler akan lebih mungkin menggores permukaan gigidaripada partikel yang bulat.
4.      Tekanan
Tekanan yang lebih kuat berarti tingkat abrasive yang lebih tinggi dikarenakan partikelabrasive memotong lebih dalam pada permukaan gigi. Peningkatan tekanan dapat jugameningkatkan temperatur dari permukaan gigi.
5.      Kecepatan
Kecepatan yang lebihtinggi juga akan menghasilkan kenaikan temperatur.



c.       Erosi
Erosi adalah hilangnya jaringan keras gigi karena bahan kimia. Disebabkan  oleh kebiasaan makan asam. Penyikatan gigi setelah aplikasi asam  secara signifikan  telah meningkatkan hilangnya jaringan gigi. Jika erosi berjalan terus maka dentin akan terbuka yang sering sangat peka karena kalsifikasi di tubulus telah terdemineralisasi oleh asam. Akhirnya pulpa bisa terinflamasi.
Pada erosi yang meluas, keseluruhan mahkota gigi mungkin terkena pengaruhnya, dengan hilangnya ketajaman permukaan yang menghasilkan suatu lapisan kaca, penampilan yang tidak menarik dengan tidak tajamnya daerah enamel seperti ini menjadi membulat. Permukaan enamel mungkin menjadi relatif cembung sampai dentin terlihat, kemudian reduksi gigi bertambah cepat karena perbedaankelunakan pada dentin. Hal ini menyebabkan penampilan yang berlubang.
d.      Fraktur
Fraktur gigi adalah  kejadian yang relatif umum, terutama pada gigi yang telah diperbaiki. Fraktur disebabkan oleh trauma baik berupa pukulan langsung terhadap gigi atau pukulan tidak langsung terhadap mandibula yang dapat menyebabkan pecahnya tonkol-tonjol gigi, gigi posterior. Selain itu, tekanan oklusal yang berlebihan  pada tumpatan yang luas dan tonjol-tonjolnya tak terdukung oleh dentin dapatmenyebabkan fraktur.
Keparahan fraktur bisa hanya sekedar retak saja, pecahnyatonjol, sampai lepasnya gigi. Trauma langsung kebanyakan mengenai gigi anterior,dan karena arah pukulan mengenai permukaan labial, garis retakannya menyebar ke belakang dan horisontal atau oblik. Pada fraktur tekanan hampir selalu mengenai permukaan oklusal sehingga garis frakturnya vertikal.
e.       Karies ( Infeksi )
1.      Defenisi Karies
Karies adalah hasil interaksi dari bakteri di permukaan gigi, plak atau biofilm dan diet sehingga terjadinya demineralisasi jaringan keras gigi dan memerlukan cukup waktu untuk kejadiannya. Ada beberapa factor yang harus ada secara bersamaan, sehingga terjadilah karies, diantara factor tersebut adalah :
a.       Bakteri kariogenik.
b.      Permukaan gigi yang rentan.
c.       Tersedianya nutrisi yang mendukung pertumbuhan bakteri.
Dari sekitar sekitar 300 macam spesies bakteri dalam rongga mulut, hanya Streptococcus Mutans lah yang dikenal sebagai penyebab terjadinya karies gigi. Streptococcus mutans dikenal sebagai penyebab utama dari karies gigi, karena streptococcus  mutans mempunyai sifat, seperti :
a.       Menempel pada email.
b.      Menghasilkan asam dan dapat hidup di dalam asam.
c.       Berkembang pesat di lingkungan yang kaya dengan sukrosa.
Saliva berperan penting dalam proses terjadinya karies. Fungsi saliva yang adekuat penting dalam pertahanan melawan karies. Mekanisme fungsi perlindungan saliva, meliputi :
a.       Aksi pembersihan bakteri.
Aksi pembersihan terjadi karena saliva mengandung molekul karbohidrat-protein ( glikoprotein ) yang menyebabkan bakteri mengelompok ( aglutinasi ) dan ditelan. Setiap hari, normalnya dibentuk 1,5 liter saliva.
b.      Aksi buffer.
Saliva juga mengandung urea dan buffer lain yang membantu melarutksn asam dalam plak.
c.       Aksi antimikroba.
Aksi antimikroba plak terjadi karena kandungan bermacam-macam protein dan antibody yang dapat menhambat bahkan membunuh bakteri.
d.      Remineralisasi.
Berkurangnya saliva secara signifikan meningkatkan laju pertumbuhan karies. Berkurangnya saliva akan berakibat pada tertekannya pH dalam jangka waktu yang lama ( berkurangnya buffering ), menurunkan efek antibakteri, dan berkurangnya ion-ion untuk remineralisasi.
Siklus proses pembentukan karies memerlukan waktu yang lama untuk menyebabkan kavitasi. Perkembanga lesi pada email bentuknya masih tetap sn melalui email memang lambat, terkadang lesi pada email bentuklnya masih tetap dalam waktu 3-4 tahun.
2.      Letak karies
Daerah yang sering terpengaruh karies yaitu :
a.       Permukaan email berfisur
b.      Permukaan email halus
c.       Permukaan akar
d.      Sekitar tumpatan.

3.      Kedalaman Karies
a.       Karies Superfisialis
Diagnosa ; Iritasi Pulpa
1.       Pengertian
Suatu keadaan di mana lapisan email telah mengalami kerusakan sampai batas Dentino Enamel Junction yang merupakan tempat terakhir dari ujung-ujung syaraf yang sudah dapat dirangsang
2.      Penyebab-penyebab
a.       Plak
b.      Faktor mekanis (  cara menyikat gigi yang salah )
3.      Gejala-gejala
a)      Linu bila terkena rangsangan dingin, manis, asam dan bila terkena sikat gigi
b)      Rasa linu hilang bila rangsangan dihilangkan
4.      Rencana Perawatan
Tumpatan, sesuai indikasi
b.      Karies Media
Diagnosa : Hiperemi Pulpa
1.      Pengertian
Suatu keadaan di mana kerusakan sudah sampai ke lapisan dentin, merupakan keadaan lanjut dari iritasi pulpa
2.      Penyebab
a.       Plak
b.      Trauma
3.      Gejala-gejala
a)      Terasa linu bila kena rangsang manis, asam, dingin, panas (kadang-kadang )
b)      Bila rangsang dihilangkan, rasa linu tetap bertahan ½ - 1 menit.
c)      Kadang-kadang linu bila kemasukan makanan
c.       Karies Profunda
Diagnosa : Pulpitis
1.      Pengertian
Adanya peradangan pada jaringan pulpa.
2.      Pembagian pulpitis
a.       Lamanya Perjalanan Penyakit Pulpa
Pulpitis Akut dan Pulpitis kronis
b.      Menurut luas kerusakan pulpa
Pulpitis Partialis dan Pulpitis Totalis
Karies rampan
Kerusakan yang sangat cepat pada beberapa gigi, sering terjadi pada permukaan gigi yang biasanya relative  bebas karies, terutama pada :
a.       Gigi geligi sulung 
b.      Gigi permanen pada anak usia belasan tahun
c.       Xerostomia/ kekurangan ludah.
Arti Streptococcus Mutans pada Proses Karies
Pada dasarnya tiap bakteri yang dari karbohidrat makanan kita memproduksi asam di dalam plak berperan pada proses karies. Streptococcus lain yang tersebar di dalam plak adalah streptococcus Mutans. Pada umumnya bakteri ini lebih dijumpai di dalam plak pada bidang-bidang karies daripada dalam plak pada email utuh. Ada pertimbangan lain yang mendasar bahwa Streptococcus Mutans diakui sebagai kemungkinanpenyebab karies.
a.       Suatu penelitian tunggal longitudinal yang baik menunjukkan bahwa frekuensi adanya Sterptococcus Mutans didalam plak ada korelasinya dengan terjadinya karies pada bidang yang sama.
b.      Streptococcus Mutans termasuk di dalam plak sebagai bakteri yang sangat resisten terhadap asam dan merupakan suatu penghasil asam yang kuat.
c.       Streptococcus mutans  pada sakarosa adalah pembentuk plak yang sangat kuat ( mutan ) dan pada binatang menyebabkan lebih banyak karies daripada bakteri lain.
2.2  Pencegahan Karies
Terdapat tiga cara dalam pencegahan karies, yaitu :
a.       Hilangkan substrat karbohidrat
b.      Meningkatkan ketahanan pejamu
c.       Hilangkan bakteri plak.
Ada juga cara lain seperti
a)      Flour
1.      Pelekatan Flor pada Email
Penyerapan flor dipengaruhi oleh keadaan email apakah email tersebut sehta atau tidak. Pada gigi yang baru erupsi emailnya juga akan menyerap flour lebih banyak dari pada email yang telah matang.
2.      Reaksi Flour dengan Email
Agar flor dapat diikat oleh email, flour tersebut harus diletakkan dalam bentuk flour apatit. Flour yang diperoleh dari cairan jaringan selama periode pembentukan gigi dan dari saliva. Oleh karena itu, tujuan aplikasi flour topical adalah untuk membentuk flour apatitdalam jumlah yang cukup dan dalam waktu yang tidak lama.


b)     Penutup Fisur
Ceruk dan fisura merupakan tempat tumbuhnya plak yang tersembunyi.daerah ini umumnya adalah daerah yang rentan terhadap karies. Penutup fisur adalah bahan yang memang dirancang sebagai pencegah karies pada ceruk dan fissure.
1.      Indikasi Klinik
a.       Gigi Permanen
Penutupan fisur harus cepat dilakukan setelah gigi erupsi. Molar pertama dan kedua biasanya merupakan calon utama. Jika resiko karies dinilai tinggi maka penutupan karies dipandang perlu sebagai bagian dari suatu program preventif yang menyeluruh.
b.      Gigi Susu
Penutupan fisur pada molar susu tidak sesring molar tetap. Indikasinya jika pasien tersebut memiliki resiko karies yang tinggi. Cara menambal dengan bhan sealnt dapat dilakukan dengan tambalan biasa maupun tambalan sinar.
2.      Tekhnik Klinik
a.       Pengisolasian
Isolasi merupakan tahap yang paling kritis dalam penentuan keberhasilan atau kegagalan uapaya penutupan fisur. Jika pori yang dibuat oleh etsa ditutupi oleh saliva maka ikatan yang terbentuk akan menjadi lemah. Isolator karet adalah isolasi yang dapat diandalkan dan diuskai ketimbang pemakaian gulungan kapas dan penyedot ludah.
b.      Pembersihan Gigi
Campuran pumis yang berminyak sebaiknya tidak digunakan karena akan mengganggu etsa. Permukaan oklusal gigi dipoles dengan pumis. Kemudian pumis dicuci bersih dengan semprotan udara dan air, lalu sonde yang tajam diseretkan sepanjang fisur, cara ini akan menghilangkan plak pada daerah yang lebih dalam yang tidak dapat dibersihkan dengan penyikatan. Kemudian gigi dicuci lahi dan dikeringkan dengan baik.
c.       Pengetsaan
Bahan etsa dioleskan di atas seluruh permukaan oklusal dan lingual atau bucal yang groove nya perlu ditutup. Pengetsaaan seluruh permukaan oklusal menghindara bahaya bahan penutup fisur menutupi daerah yang tidak teretsa sehingga menyebabkan kebocoran.  Setelah semua daerah teretsa, waktunya dicatat dan email dietsa selama 60 detik.
d.      Pencucian
Setelah 60 detik asam dicuci bersih. Mula-mula gunakan semprotan air selam 5 detik, kemudian semprotan udara yang akan mengeluarkan air dan udara selama 15-20 detik. Jika etsa yang digunakan dalam bentuk gel, maka pencuciannya dilipat gandakan sampai asamnya bersih.
e.       Pengeringan email yang teretsa
Sekarang, permukaan email yang telah dietsa harus dikeringkan menggunkan semprotan udara. Lama pengeringan yang dianjurkan adalah 15 detik. Fase ini sangat penting karena setiap kelembapan pada permukaan yang sudah dietsa akan menghalangi penetrasi resin ke email.

f.       Pencampuran
Bahan  resin sinar tidak perlu dicampur. Resin kimia terdiri atas 2 komponen yang harus dicampur secara perlahan-lahan agar tidak timbul gelembung udara.
g.      Aplikasi
Aplikator atau kuas kecil sekali pakai yang disediakan dalam kemasan digunakan untuk meletakkan bahan penutup fisur ke ceruk dan fisuura. Jika dipakai resin sinar, alat penyinar harus diletakkan langsungdi atas bahan penutup, tetapi tidak boleh menyentuhnya. Penyinaran dilakukan selama 60 detik. Penyinaran harus sesuai lamanya dengan waktu yang ditentukan, karena pengetsaan yang tidak lengkap akan mwnywbabkan kegagalan. Sebagian besar bahan resin mengeras dalam waktu 1-3 menit.
h.      Pengecekan oklusal
Pengecekan oklusi dioeriksa dengan kertas artikulasi. Akan lebih baik jika bgain yang meninggi itu dihilangkan dengan menggunakan bur.




BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Adabanyak penyakit gigi dan mulut yang terjadi sat-sat ini. Mulai dari penyakit karena non-infeksi hingga penyakit karena infeksi. Penyakit gigi karena non-infeksi seperti atrisi, abrasi, erosi dan fraktur, sedangkan penyakit gigi karena infeksi seperti karies. Karies itu sendiri dapat dibagi lagi berdasarkan kriteria tertentu seperti : karis media, superfisialis, profunda rampan dan lain sebagainya.
3.2  Saran
Bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang peneleitian ini, sebaiknya dapat mengungkapkan masalah ini secra lebih mendalam terperinci. Pembaca bisa menjadikan penelitian ini sebagai panduan untuk melakukan penelitian lebih lanjut.





DAFTAR PUSTAKA

Anie Kristiani, drg, M. Pd, dkk, 2010, Buku Ajar Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut, Tasikmalaya, Jurusan Kesehatan Gigi Politekhnik Kesehatan Tasikmalaya
J. H. J. Huis in ‘t Veld, Dr,  Bab 4 Plak Gigi
Megananda hiranya putri., drg., M. Kes, 2010,  Ilmu Pencegahan Penyakit Jaringan Keras Dan Jaringan Pendukung Gigi, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran

 


Komentar

  1. Makasih ilmunya kak,sangat bermanfaat sekali dan menambah wawasan dan pengetahuan kami mengenai penyakit gigi dan mulut. Blognya bagus kak🙂

    BalasHapus
  2. Trimakasih buat makalahnya, sangat membantu kak :)

    BalasHapus

Posting Komentar